IMG_20131118_130359Tahukah kamu sensasinya naik Klotok (perahu khas kota Banjarmasin) di Pasar Apung? Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan naik Klotok ke Pasar Apung yang ada di anak sungai terlebar di Indonesia, Sungai Barito. Pasar Apung Kota Banjarmasin terletak di muara Sungai Kuin yang mengarah ke Sungai Barito.
Saat itu saya bermalam di Pelaihari, maka saya harus angkat kaki dari penginapan sekitar pukul 02.30 WITA agar saya berkesempatan untuk melihat suasana Pasar Apung pada waktu subuh. Perjalanan selama hampir 2 jam sangat tidak terasa karena sepanjang perjalanan tidak ada istilah macet seperti layaknya ibukota. Menyempatkan diri untuk beribadah subuh dan mengagumi arsitektur khas adat Melayu di salah satu masjid bersejarah bagi masyarakat Kota Banjarmasin, Masjid Sultan Suriansyah adalah pengalaman luar biasa. Melanjutkan perjalanan ke Pasar Apung, saya menaiki Klotok sewaan dari dermaga masjid Sultan Suriansyah sekitar 30 menit menyusuri Sungai Kuin.
Tentu kamu sudah banyak tahu tentang khasnya Pasar Apung disana, tapi bukan sensasi itu yang akan saya bagi sekarang. Rumah-rumah kayu dan “ruko” ala Banjarmasin yang memanjang seperti “kampung deret-nya Jakarta” di sepanjang Sungai Kuin. Masyarakat menggantungkan hidupnya pada air yang mengalir di belakang rumah, mandi, mencuci pakaian, menggosok gigi, buang hajat, mencuci bahan makanan, hingga pembuangan limbah rumah tangga.
Air mengalir sampai jauh bermuara ke laut begitu kata pepatah. Air bekas cucian masyarakat kampung Kuin bermuara ke Laut Jawa melewati Sungai Barito dan tentunya Pasar Apung khas Kota Banjarmasin. Air tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau adalah syarat mutlak air bersih. Air mengalir di belakang rumah mereka memang tidak coklat susu seperti bantaran sungai di Jakarta. Apakah Sungai Kuin layak mengampu kehidupan masyarakat Kampung Kuin?
Seorang pemimpin harus adil mengetahui kebutuhan rakyatnya. Apakah masyarakat butuh dipindahkan ke pemukiman yang lebih layak? Haruskah pemerintah memindah paksa habitat masyarakat Kampung Kuin ke daerah pemukiman yang lebih ideal? Ya! Tentu dengan pendekatan adat, mengubah kebiasaan bukan perkara mudah dan butuh waktu panjang. Lantas, apa hubungannya dengan kami mahasiswa Ilmu Gizi yang tentu paham dengan higienitas dan sanitasi? Kami adalah pemimpin di bidang profesi kami, penting untuk masyarakat kampung deret untuk memahami sanitasi lingkungan. Kami tidak harus ke Banjarmasin, tapi kami dapat memulainya sekarang dan dari hal yang kecil. Setidaknya kami akan mengubah perilaku mereka untuk menggunakan air bersih layak pakai kepada kerabat dan tetangga dekat kami.
Oleh: Putri Gita Puspita