Buletin Enzim Edisi Februari
Selamat siang nutrilicious, kali ini buletin himagizi atau lebih dikenal ENZIM hadir kembali. Yuk langsung dibaca informasinya.

buletin feb

KULTWEETN

Pada kondisi normal, di dalam usus manusia terdapat beberapa jenis gas, antara lain H2, CO2, N2, O2, dan CH4. Namun, karena adanya fermentasi bakteri terhadap oligosakarida, produksi gas-gas tersebut akan meningkat dan menumpuk dalam saluran pencernaan, sehingga menyebabkan flatulensi. Bahasa awamnya sering disebut buang angin. Flatulensi merupakan salah satu masalah pencernaan yang disebabkan karena penumpukan gas hasil fermentasi oligosakarida yang tidak tercerna oleh mikroba di dalam usus besar. Oligosakarida tersebut tidak dapat dicerna karena di dalam usus mamalia, termasuk manusia tidak memiliki enzim alfa-galaktosidase yang digunakan untuk mencerna oligisakarida. Oleh karena itu, oligosakarida tidak dapat dicerna dan diserap oleh tubuh.
Contoh oligosakarida yang menyebabkan flatulensi adalah rafinosa dan stakiosa. Oligosakarida yang tidak tercerna tersebut kemudian akan difermentasi oleh bakteri di dalam saluran pencernaan, khususnya di dalam usus besar membentuk gas hidrogen, karbondioksida, dan sejumlah kecil metana. Gas-gas yang dihasilkan dari hasil fermentasi tersebut memang tidak bersifat toksik, namun dapat menyebabkan efek yang merugikan bagi kesehatan, antara lain pusing, konstipasi, diare, penurunan daya konsentrasi, dan sedikit perubahan mental.
Bahan pangan yang dapat menyebabkan flatulensi antara lain biji-bijian, kacang-kacangan, makanan tinggi serat, laktosa (dalam susu, produk susu, keju, yoghurt), dan sayuran yang banyak mengandung sulfur seperti kol, brokoli, kubis, dan kale. Konsumsi dalam jumlah sedang gula jenis fruktosa dan sorbitol juga menyebabkan penumpukan gas di dalam saluran pencernaan. Selain karena konsumsi bahan pangan tesebut, flatulensi juga disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut antara lain kurangnya aktivitas fisik, penurunan motilitas usus, dan aerophagia. Aerophagia merupakan tertelannya udara ke dalam saluran pencernaan melalui mulut.
Mengurangi konsumsi bahan pangan penyebab flatulensi, seperti biji-bijian dan kacang-kacangan terbukti dapat menurunkan produksi gas di dalam usus. Selain itu, dengan meningkatkan aktivitas fisik dan minum banyak air juga dapat mencegah terjadinya flatulensi. Aerophagia yang menjadi salah satu penyebab dari flatulensi dapat dicegah dengan cara makan dan mengunyah secara perlahan serta menghindari minum dengan menggunakan sedotan. Dengan mengetahui penyebab dari flatulensi, kita bisa menjadi lebih bijak dalam menjalankan gaya hidup sehat dan memilih makanan yang tepat untuk mendukung fungsi normal tubuh.
Sumber :
Borakhatariya AN, Jesani VJ, Patrel JB, Shah DH, Sathwara YR, Zala SP, Sen DJ. Flatulence : a chronic gastric upset in today’s hectic lifestyle. International Journal of Drug Formulation and Research. 2(2) : 176-191.

copy-of-tea

“There is overwhelming scientific evidence demonstrating that those of us who eat a diet rich in antioxidants and take antioxidant supplements will live longer, healthier lives” – Dr. Packer
Tubuh manusia secara terus-menerus menghasilkan senyawa radikal dan pada akhirnya menghasilkan radikal bebas melalui peristiwa metabolisme sel normal, peradangan, kekurangan gizi, dan akibat respons terhadap pengaruh dari luar tubuh seperti polusi. Pembentukan radikal bebas akan meningkat dengan bertambahnya usia. Senyawa tersebut merupakan oksidan yang reaktif dan selalu berusaha menyerang komponen seluler seperti lipid, lipoprotein, protein, karbohidrat, RNA, dan DNA. Seiring bertambahnya pengetahuan tentang aktivitas radikal bebas, maka penggunaan senyawa antioksidan semakin berkembang dengan baik dalam makanan maupun pengobatan.
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menangkal atau meredam dampak negatif radikal bebas. Antioksidan dalam kadar atau jumlah tertentu mampu menghambat atau memperlambat kerusakan akibat proses oksidasi. Antioksidan bekerja dengan cara mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga aktivitas senyawa oksidan tersebut dapat dihambat. Antioksidan yang dihasilkan tubuh manusia tidak cukup untuk melawan radikal bebas, sehingga tubuh memerlukan asupan antioksidan dari luar. Antioksidan terdapat secara alami dalam bahan pangan. Antioksidan alami banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan, sayuran, dan buah-buahan. Selain itu, terdapat juga antioksidan sintetik seperti BHA, BHT, propilgallat, dan etoksiquin. Namun secara umum, antioksidan alami lebih banyak dikonsumsi karena derajat toksisitasnya yang rendah dan kekhawatiran akan kemungkinan efek samping yang belum diketahui dari antioksidan sintetik.
Terdapat berbagai macam senyawa antioksidan dalam bahan pangan. Diantaranya adalah vitamin E (tocoferol dan tocotrienol), vitamin C, karotenoid, vitamin A, likopen, flavonoid, fitat, asam sitrat, katekin, dan selenium. Dalam satu jenis bahan pangan dapat mengandung lebih dari satu senyawa antioksidan, seperti tomat yang mengandung vitamin E, beta-karoten, dan likopen. Konsumsi likopen yang terkandung dalam tomat dapat mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah sehingga mengurangi resiko penyakit jantung dan stroke. Likopen juga mencegah berbagai penyakit kanker, diantaranya kanker prostat, kanker tulang, dan kanker rahim. Selain itu, konsumsi vitamin A, C, dan E sebagai antioksidan dapat mencegah penuaan dini. Beta-karoten juga dapat meningkatkan komunitas antarsel di dalam tubuh sehingga dapat meningkatan daya tahan tubuh. Dan masih banyak senyawa-senya antioksidan lain yang dapat mencegah atau menyembuhkan penyakit juga meningkatkan kesehatan tubuh.
Konsumsi bahan pangan yang mengandung senyawa antioksidan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dapat menghindarkan tubuh dari serangan radikal bebas. Resiko penyakit-penyakit degeneratif dapat dikurangi dan penuaan dini dapat dicegah, serta memperpanjang umur hidup. Dengan mengetahui manfaat yang berlimbah dari antioksidan, kita menjadi tahu bahwa mengonsumsi sayur dan buah, juga bahan pangan lain sangat penting demi kesehatan tubuh yang lebih baik.

Sumber:
Sayuti K dan Yenrina R. 2015. Antioksidan Alamni dan Sintetik. Padang (ID) : Andalas Unversity Press.