[APAKAH BENAR KAUM MILENIAL RENTAN MENGALAMI OBESITAS?]

Zaman sekarang semakin banyak jenis makanan tinggi kalori, gula, maupun lemak yang ditawarkan kepada konsumen, seperti minuman manis dan makanan yang digoreng. Makanan tinggi kalori memang terkadang sangat menarik dan memiliki rasa yang lezat. Namun, belum banyak diketahui bahwa makanan berkalori tinggi mampu meningkatkan risiko obesitas lho. Seseorang dinyatakan obesitas apabila memiliki indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 30 kg/m2 (IMT=BB/TB(m)2). Data Riskesdas tahun 2018 menyatakan bahwa kasus obesitas di Indonesia memiliki angka 21.8% yang meningkat dari tahun sebelumnya. Angka tersebut dinilai cukup tinggi dan perlu diatasi untuk mencapai status kesehatan yang lebih baik dan mencegah penyakit tidak menular. Sebenarnya, apa sajakah yang dapat menyebabkan kasus obesitas?

Pola makan yang tidak sehat dapat menjadi salah satu penyebab tingginya obesitas di Indonesia. Kita sebagai konsumen seringkali membeli makanan hanya karena keinginan, bukan berdasarkan kebutuhan. Hal ini dapat mengakibatkan konsumsi kalori lebih tinggi dari kebutuhan tubuh, namun zat gizi lain seperti zat gizi mikro, protein, dan serat tergolong rendah. Salah satu yang cukup tinggi adalah konsumsi gula, misal dari makanan cokelat, kopi, minuman soda, atau lainnya. Asupan makanan berlebih dari gula sederhana diduga mampu meningkatkan risiko obesitas.

Menurut data Riskesdas (2018), proporsi konsumsi buah/sayur kurang dari 5 porsi pada penduduk umur > 5 tahun sebesar 95%. Artinya, konsumsi buah dan sayur di Indonesia masih sangat sedikit, sebaliknya konsumsi karbohidrat dan lemak yang tinggi. Orang Indonesia masih banyak yang mengonsumsi makanan hanya dengan jenis karbohidrat, seperti makan nasi, mie, dan perkedel kentang dalam satu menu. Gaya hidup yang juga berubah dapat mengakibatkan perubahan konsumsi.
Salah satu trend pada masa sekarang adalah kemudahan akses terhadap berbagai hal. Salah satunya adalah akses makanan hanya dengan memesan via online. Masyarakat hanya menggunakan media komunikasi dan jejaring data, sehingga dapat langsung memesan makanan ke restoran yang diinginkan tanpa harus keluar rumah. Hal ini dapat juga menurunkan aktivitas fisik (sedentary lifestyle) yang dilakukan seseorang dan disertai dengan pemilihan makanan yang kurang bergizi, seperti junk food.

Obesitas dapat menjadi faktor risiko dari penyakit- penyakit tidak menular. Oleh sebab itu, mari tingkatkan konsumsi sayur dan buah serta perhatikan pola makan yang sesuai dengan pilar gizi seimbang. Aktivitas fisik juga sangat perlu untuk menjaga kebugaran dan berat badan. Yuk, mulai hidup sehat dari diri sendiri.

Sumber :
Almatsier. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
[Riskesdas]. 2018. Hasil Utama Riskesdas. Jakarta (ID): Kementrian Kesehatan RI

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *