Kabinet 4.0

BENARKAH TERLALU SERING BEGADANG MEMBUAT GEMUK?

pesan gizi

Apakah anda termasuk orang yang sering begadang? Begadang adalah keadaan dimana seseorang berjaga dan tidak tidur hingga larut malam. Manusia secara normal harus tidur minimal 8 jam sehari, sedangkan untuk kasus begadang ini jam tidur biasanya kurang dari 6 jam. Membuat tugas, belajar, nonton film, main game, browsing Youtube, dan chatting di media sosial memang bisa membuat seseorang tahan terjaga sampai larut malam. Selain kebiasaan-kebiasaan tersebut, insomnia dan banyaknya beban pikiran juga bisa menjadi alasan seseorang untuk begadang. Meskipun begadang saat ini dianggap sebagai hal yang biasa, namun pernahkah anda mendengar bahwa begadang dapat membuat seseorang menjadi gemuk?

Banyak yang mengatakan bahwa begadang membuat orang menjadi lebih gemuk karena lebih sering ngemil saat tidak bisa tidur. The American National Sleep Foundation merekomendasikan durasi tidur yang ideal adalah 7 – 9 jam sehari, sedangkan penelitian di Korea Selatan menunjukkan bahwa rata-rata orang dewasa di Korea Selatan tidur sekitar 6.7 jam sehari. Studi ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara begadang dengan kenaikan indeks massa tubuh (IMT) pada orang dewasa (19 – 49 tahun) (Sung 2017). Studi yang dilakukan oleh Patel et al. (2008) menunjukkan bahwa durasi tidur yang sangat singkat (kurang dari 7 jam) beresiko meningkatkan IMT sebesar 2.5 kg/m2 pada laki-laki, dan 1.7 kg/m2 pada perempuan. Selain itu, durasi tidur yang singkat juga berhubungan erat dengan peningkatan persentase lemak tubuh. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Mekanisme pasti mengenai hubungan durasi tidur dengan indeks massa tubuh masih belum diketahui secara pasti. Namun mekanisme yang mungkin terjadi adalah disregulasi insulin dan glukosa, peningkatan hormon ghrelin yang mengatur rasa lapar dan penurunan hormon leptin yang mengatur rasa kenyang, peningkatan konsumsi kalori pada hari berikutnya, dan berkurangnya aktivitas fisik akibat kelelahan begadang (Sung 2017). Menurut Ford et al. (2014), saat kurang tidur jumlah leptin akan menurun, sehingga seseorang tidak pernah merasa kenyang setelah makan. Kurang tidur juga membuat kadar hormon ghrelin naik, sehingga menstimulasi orang untuk merasa lapar, sehingga ingin makan lagi. Perlu anda ketahui bahwa metabolisme tubuh rendah pada malam hari karena beraktifitas lebih rendah. Artinya, apabila anda mengonsumsi makanan saat begadang, jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh tidak seimbang dengan kebutuhan, sehingga menyebabkan kalori tidak terbakar, namun ditimbun dalam lemak tubuh.

Sudah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa begadang atau durasi tidur yang singkat dapat meningkatkan indeks massa tubuh. Jika hal ini terjadi secara berkelanjutan dapat menyebabkan IMT seseorang akan terus naik, dan berakhir pada obesitas yang dapat menjadi pemicu penyakit tidak menular lainnya. Oleh karena itu biasakanlah tidur dengan durasi yang cukup, makan makanan beragam yang sesuai kebutuhan, serta perbanyak aktivitas fisik agar dapat mencapai status gizi yang normal dan mencegah terjadinya penyakit tidak menular.

Daftar Pustaka
Ford ES, Wheaton AG, Chapman DP, Perry GS, Croft J. 2014. Sleep duration and body mass index and waist circumference among U.S adults. Journal of Obesity. 22(2) : 598 – 607.
Patel SR, Blackwell T, Redline S, Israel SA, Cauley JA, Hillier TA, Lewis CE, Orwoll ES, Stefanick ML. 2008. The association between sleep duration and obesity in older adults. Int J Obes (Lond). 32(12) : 1825 – 1834.
Sung B. 2017. Analysis of the relationship between sleep duration and body mass index in a South Korean adult population: a propensity score matching approach. Journal of Lifestyle Medicine. 7(2) : 76 – 83.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *