Kabinet Milik Kita

Apa itu “Diet Ketogenik”?

#48 PESAN GIZI 2

Saat ini di masyarakat tengah populer berbagai jenis diet yang dilakukan untuk menurunkan berat badan. Salah satu jenis diet yang ramai menjadi perbincangan saat ini yaitu diet ketogenik. Apakah kalian mengenal apa itu diet ketogenik ? Diet ketogenik yang banyak dilakukan masyarakat dipercaya dapat menurunakan berat badan dengan cepat, benarkah demikian ?

Diet ketogenik merupakan pola makan yang berfokus pada asupan makanan tinggi lemak serta rendah karbohidrat, dengan kandungan lemaknya mencapai 70-90 % atau 3 sampai 4 kali lebih besar dari kandungan karbohidrat dan protein (Escott-Stump 2012). Berbeda dengan jenis diet lain yang umumnya menganjurkan pembatasan konsumsi lemak, diet ketogenik menganjurkan konsumsi makanan tinggi lemak namun rendah atau bahkan tanpa karbohidrat, hingga tubuh mencapai ketosis. Ketosis merupakan keadaan dimana tubuh memproduksi badan keton untuk digunakan sebagai bahan bakar energi yang akan digunakan oleh tubuh. Ketosis ini umunya terjadi jika tubuh dalam kondisi kelaparan (starvation). Dalam kondisi normal, tubuh menggunakan karbohidrat (glukosa) sebagai sumber energi utama, sedangkan pada kondisi kelaparan sumber glukosa di dalam tubuh tidak tersedia sehingga tubuh akan memecah lemak sebagai pengganti energi dan membentuk badan keton (Campos 2017, Paoli et al. 2013).

Diet ketogenik ini pertama kali diakui oleh American Medical Association pada tahun 1920an sebagai terapi diet yang digunakan untuk mengontrol kejang-kejang pada penderita epilepsi terutama pada anak-anak (Nelms et al. 2010). Diet ini terus berkembang dan semakin dikenal luas serta menjadi populer pada tahun 1970an karena dapat menurunkan berat badan (Paoli et al. 2013). Banyak penelitian yang telah membuktikan penurunan berat badan yang efektif dari diet ketogenik ini, salah satunya adalah penelitian oleh Paoli pada penderita obesitas. Meskipun mekanisme diet ketogenik terhadap penurunan berat badan tersebut masih menjadi perdebatan, namun terdapat hipotesis yang menunjukkan bahwa penurunan berat badan ini disebabkan karena menurunnya nafsu makan (Paoli 2014).

Selain terbukti efektif dalam menurunkan berat badan dan berperan positif terhadap kelainan epilepsi, ternyata berbagai penelitian juga membuktikan bahwa diet ketogenik ini juga dapat mengurangi resiko penyakit kardiovaskular dan mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (Paoli et al. 2013, Campos 2017). Diet ketogenik juga dianggap berperan terhadap penyakit neurological atau kelainan saraf seperti Alzheimer’s dan Parkinson’s disease (Paoli et al. 2013). Namun, perlu diketahui pula bahwa diet ketogenik ini juga memberikan efek samping, meskipun efek samping yang ditimbulkan berbeda-beda pada tiap individu. Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh diet ketogenik diantaranya, mual, rasa lelah, konstipasi, tekanan darah rendah, peningkatan asam urat, bau mulut, dan berbahaya bagi janin pada wanita hamil (Rolfes et al. 2009).

Menu makan pada diet ketogenik didominasi oleh jenis pangan hewani dengan sedikit sayuran dan buah-buahan, sehingga diet ketogenik ini rendah serat (Nelms et al. 2010). Diet ketogenik ini hanya dapat dilakukan dalam waktu singkat dan tidak diketahui secara pasti seberapa besar efek untuk jangka panjangnya (Campos 2017). Tidak semua orang dapat melakukan jenis diet ini, untuk itu pelaksanaan diet ketogenik harus mendapatkan pengawasan. Sebaiknya hindari diet yang tidak diketahui efek jangka panjanya, atau jika ingin melakukan diet seperti diet ketogenik konsultasikanlah lebih lanjut dengan dokter atau ahli gizi. Ingat, makan makanan yang beragam dan seimbang merupakan cara terbaik untuk hidup sehat dalam kehidupan jangka panjang.


DAFTAR PUSTAKA

Campos M. 2017. Ketogenic diet: is the ultimate low-car diet good for you?. www.health.harvard.edu/blog/ketogenic-diet-is-the-ultimate-low-carb-diet-good-for-you-2017072712089. [27 Januari 2018]

Escott-Stump S. 2012. Nutrition and Diagnosis-Related Care, Seventh Edition. Philadelphia(US): Lippincott Williams & Wilkins.

Nelms M, Sucher KP, Lacey K, Roth SL. 2010. Nutrition Therapy and Pathophysiology, Second Edition. Ohio(US): Wadsworth.

Paoli A, Rubini A, Volek JS, Grimaldi KA. 2013. Beyond weight loss: a review of the therapeutic uses of very-low-carbohydrate (ketogenic) diets. European Journal of Clinical Nutrition. 67:789–796.

Paoli A. 2014. Ketogenic diet for obesity: friend or foe?. Int J Environ Res Public Health. 11:2092-2107.

Rolfes SR, Pinna K, Whitney E. 2009. Understanding Normal and Clinical Nutrition, Eighth Edition. Belmount(US): Wadsworth.

One thought on “Apa itu “Diet Ketogenik”?

  1. Sukses terus utk himagizi, mhon update terus info2 gizi kekinian, trtama utk kami yg ga punya banyak wktu utk googling jurnal ilmiah spti jaman kuliah dlu

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *