Kabinet Milik Kita

Apa Itu Nutrifikasi?

Apa itu nutrifikasi


Nutrifikasi atau suplementasi adalah penambahan satu atau lebih nutrisi atau zat gizi ke dalam produk pangan. Macam-macam jenis nutrifikasi adalah restorasi, fortifikasi, pengkayaan, standarisasi, dan substitusi (Kurniawati 2017). Tetapi, mengapa suatu makanan atau minuman perlu penambahan nilai gizi? Bukankah penambahan zat gizi membuat produk jadi lebih mahal? Apakah ada kemungkinan dampak negatif jika seseorang mengonsumsi bahan pangan yang dinutrifikasi?

Permasalahan gizi di Indonesia masih belum teratasi. Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi gizi kurang di Indonesia sebesar 19,6% (6). Nilai prevalensi gizi kurang cukup tinggi di Indonesia dibandingkan standar yang ditetapkan World Health Organization (WHO) yaitu sebesar 10% (Elvandari et al. 2017). Ini menandakan masyarakat Indonesia masih mengalami kekurangan gizi yang cukup tinggi. Jika seseorang sudah mengalami kekurangan atau defisiensi zat gizi, itu akan berdampak pada berkurangnya IQ dan imunitas orang tersebut serta akan berkecenderungan stunting (pendek).

Kita tidak perlu takut terhadap bahan pangan yang dinutrifikasi. Perlu kita ketahui bahwa nutrifikasi bukanlah suatu hal baru di dunia kesehatan. Contohnya saja penambahan iodine pada garam yang dilakukan pertama kali di Switzerland dan USA pada awal abad 20. (Elvandari et al. 2017). Proses nutrifikasi membutuhkan banyak pertimbangan seperti biaya produksi yang seminimal mungkin, zat gizinya tidak boleh bereaksi dengan bahan pangan, dan zat gizi tersebut tidak menimbulkan efek negatif jika seseorang mengonsumsi berlebih. Zat gizi yang ditambahkan ke dalam bahan pangan pun hanyalah zat gizi tertentu yang tidak cukup dikonsumsi oleh sebagian populasi masyarakat, seperti vitamin, mineral, asam amino, serat pangan dan prebiotik, asam lemak, kholin dan L-karnitin. Zat gizi tersebut pun tidak sembarang dimasukkan, melainkan membutuhkan banyak pertimbangan seperti biaya produksi yang seminimal mungkin, zat gizinya tidak boleh bereaksi dengan bahan pangan, dan zat gizi tersebut tidak menimbulkan efek negatif jika seseorang mengonsumsi berlebih (Martianto 2012).

Selain penambahan nilai gizi suatu bahan pangan, nutrifikasi memiliki kegunaan dan tujuan lainnya. Nutrifikasi dilakukan untuk menjadi nilai tambah suatu produk seperti yang dilakukan oleh industri makanan dan juga bisa digunakan untuk menjaga keutuhan nilai gizi yang terkandung di dalamnya. Misalnya restorasi yang dilakukan untuk menggantikan zat gizi yang hilang atau rusak selama proses pengolahan. Bisa juga untuk menurunkan resiko defisiensi dengan fortifikasi, seperti penambahan asam folat pada susu ibu hamil. Susu pertumbuhan juga tidak sembarang susu. Susu tersebut sudah melewati standarisasi dengan penambahan berbagai zat gizi yang sesuai untuk pertumbuhan si kecil (Kurniawati 2017).

Oleh karena itu, nutrifikasi saat ini masih menjadi salah satu strategi global untuk mengatasi masalah gizi kurang di masyakat tidak hanya di Indonesia, namun di dunia. Tetapi, nutrifikasi tentunya perlu melewati berbagai perhitungan dan pertimbangan sesuai peraturan yang berlaku agar tidak berefek negatif bagi masyarakat dan tidak merugikan industri karena penambahan biaya produksi.


Daftar Pustaka

Elvandari M, Briawan D, dan Tanziha I. 2017. Suplementasi vitamin A dan asupan zat gizi dengan serum retinol dan morbiditas anak 1-3 tahun. Jurnal Gizi Klinik Indonesia. 13 (4): 179 – 187.

Kurniawati DA. 2017. Teknologi Suplementasi Pangan. http://adelyadesi.lecture.ub.ac.id/ [Diakses pada 31 Januari 2018].

Martianto D. 2012. Fortifikasi Pangan. http://seafast.ipb.ac.id/lectures/MPTP-2011/ [Diakses pada 31 Januari 2018].

One thought on “Apa Itu Nutrifikasi?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *