Kabinet Integritas

ANTIOKSIDAN

copy-of-tea

“There is overwhelming scientific evidence demonstrating that those of us who eat a diet rich in antioxidants and take antioxidant supplements will live longer, healthier lives” – Dr. Packer
Tubuh manusia secara terus-menerus menghasilkan senyawa radikal dan pada akhirnya menghasilkan radikal bebas melalui peristiwa metabolisme sel normal, peradangan, kekurangan gizi, dan akibat respons terhadap pengaruh dari luar tubuh seperti polusi. Pembentukan radikal bebas akan meningkat dengan bertambahnya usia. Senyawa tersebut merupakan oksidan yang reaktif dan selalu berusaha menyerang komponen seluler seperti lipid, lipoprotein, protein, karbohidrat, RNA, dan DNA. Seiring bertambahnya pengetahuan tentang aktivitas radikal bebas, maka penggunaan senyawa antioksidan semakin berkembang dengan baik dalam makanan maupun pengobatan.
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menangkal atau meredam dampak negatif radikal bebas. Antioksidan dalam kadar atau jumlah tertentu mampu menghambat atau memperlambat kerusakan akibat proses oksidasi. Antioksidan bekerja dengan cara mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga aktivitas senyawa oksidan tersebut dapat dihambat. Antioksidan yang dihasilkan tubuh manusia tidak cukup untuk melawan radikal bebas, sehingga tubuh memerlukan asupan antioksidan dari luar. Antioksidan terdapat secara alami dalam bahan pangan. Antioksidan alami banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan, sayuran, dan buah-buahan. Selain itu, terdapat juga antioksidan sintetik seperti BHA, BHT, propilgallat, dan etoksiquin. Namun secara umum, antioksidan alami lebih banyak dikonsumsi karena derajat toksisitasnya yang rendah dan kekhawatiran akan kemungkinan efek samping yang belum diketahui dari antioksidan sintetik.
Terdapat berbagai macam senyawa antioksidan dalam bahan pangan. Diantaranya adalah vitamin E (tocoferol dan tocotrienol), vitamin C, karotenoid, vitamin A, likopen, flavonoid, fitat, asam sitrat, katekin, dan selenium. Dalam satu jenis bahan pangan dapat mengandung lebih dari satu senyawa antioksidan, seperti tomat yang mengandung vitamin E, beta-karoten, dan likopen. Konsumsi likopen yang terkandung dalam tomat dapat mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah sehingga mengurangi resiko penyakit jantung dan stroke. Likopen juga mencegah berbagai penyakit kanker, diantaranya kanker prostat, kanker tulang, dan kanker rahim. Selain itu, konsumsi vitamin A, C, dan E sebagai antioksidan dapat mencegah penuaan dini. Beta-karoten juga dapat meningkatkan komunitas antarsel di dalam tubuh sehingga dapat meningkatan daya tahan tubuh. Dan masih banyak senyawa-senya antioksidan lain yang dapat mencegah atau menyembuhkan penyakit juga meningkatkan kesehatan tubuh.
Konsumsi bahan pangan yang mengandung senyawa antioksidan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dapat menghindarkan tubuh dari serangan radikal bebas. Resiko penyakit-penyakit degeneratif dapat dikurangi dan penuaan dini dapat dicegah, serta memperpanjang umur hidup. Dengan mengetahui manfaat yang berlimbah dari antioksidan, kita menjadi tahu bahwa mengonsumsi sayur dan buah, juga bahan pangan lain sangat penting demi kesehatan tubuh yang lebih baik.

Sumber:
Sayuti K dan Yenrina R. 2015. Antioksidan Alamni dan Sintetik. Padang (ID) : Andalas Unversity Press.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *