Kabinet Integritas

POTENSI SAGU DALAM UPAYA DIVERSIFIKASI PANGAN

Peningkatan jumlah penduduk disertai adanya perubahan iklim yang semakin ekstrim mengakibatkan penurunan ketersediaan sumber pangan pokok. Hal ini menuntut kita untuk berupaya lebih serius dalam mengupayakan sumber pangan lain di luar beras melalui penganekaragaman sumber bahan pangan. Meskipun sasarannya adalah menurunkan permintaan terhadap bahan pangan utama sumber karbohidrat, yakni beras, tetapi penganekaragaman pangan juga dimaksudkan untuk meningkatkan konsumsi bahan pangan lain di luar beras sebagai sumber karbohidrat. Selain untuk menurunkan konsumsi beras, sumber pangan yang beraneka juga lebih baik bagi kesehatan, pertumbuhan dan dapat meningkatkan kecerdasan.
Salah satu sumber bahan pangan lokal dan menjadi sumber karbohidrat bagi sebagian masyarakat Indonesia adalah sagu. Sagu merupakan sumber pangan karbohidrat bagi masyarakat Indonesia di provinsi-provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Bagi generasi muda, sagu kurang populer dibandingkan beras yang dinilai lebih mudah didapat dan lebih praktis dalam pengolahan sebagai makanan pokok. Meskipun demikian, sebagai sumber karbohidrat potensi sagu sangat besar. Peluang pengembangan sagu sebagai substitusi bahan dasar produk pangan, seperti mie, roti, biskuit, kue, makanan kudapan/ringan sangat terbuka dan menjanjikan.
Dalam perspektif diversikasi pangan, sagu dapat diolah mejadi berbagai macam bentuk sajian yang menarik. Pati sagu dapat dioleh menjadi berbagai produk organis-tradisional, antara lain: papeda, sinoli, ongol-ongol, sagu lempeng, sagu gula, sagu tumbuh, bubur ne, sagu mutiara, bagea dan lainnya. Disamping itu, pati sagu/tepung sagu kering sudah dapat dioleh menjadi aneka penganan/produk kontemporer-fungsional, antara lain: bika, brouwnis, rollcook, bruder, roti, mi, bakso, dan lainnya (Papilaya, 2008).
Secara umum pembudidayaan dan pemanfaatan sagu memberikan manfaat lebih bagi Indonesia, baik pada taraf peningkatan ekonomi, kesejahteraan sosial, penyediaan komoditi pangan nasional, hingga penyediaan lapangan kerja dan bisnis. Dan yang lebih penting lagi, apabila upaya ini dilakukan dengan konsisten kita dapat berkontribusi secara signifikan bagi pemenuhan pangan dunia. Untuk pangan nasional, tentu pemanfaatan sagu sebagai komoditi pangan berkarbohidrat juga ikut mengurangi ketergantungan masyarakat pada beras yang saat ini diserap hampir 80% oleh masyarakat Indonesia, sehingga program diversifikasi pangan dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan sumberdaya pangan lokal.
Disamping sifat dan kandungan gizi yang dimilikinya, sagu dapat diandalkan sebagai komoditas diversifikasi pangan mengingat harganya yang masih terjangkau oleh masyarakat luas. Harga sagu setiap kilogram mencapai setengah dari harga beras pada unit berat yang sama. Dengan kata lain, pada masa yang akan datang ditinjau dari sisi daya beli, sagu lebih mudah dan murah dapat diakses olah kalangan masyarakat bawah, jika dibandingkan dengan beras. Pada konteks inilah dapat dikonsolidasikan suatu kebijakan, bahwa komoditas sagu sangat menjanjikan sebagai sumber pangan nasional masa depan.
Perlu diingat pula, bahwa tidak ada satu pun bahan pangan yang mengandung semua unsur gizi yang diperlukan tubuh dalam jumlah cukup. Bila ingin memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan, tidak ada cara kecuali dengan menambah keragaman bahan pangan yang dimakan sehari-hari. Dengan kombinasi konsumsi yang beragam, unsur-unsur gizi dari bahan pangan akan saling melengkapi. Kekurangan zat gizi dari bahan pangan yang satu, akan ditutupi oleh bahan pangan yang lain. Konsumsi pangan yang beragam akan lebih baik bagi kesehatan tubuh, dibandingkan dengan pola konsumsi yang hanya mengandalkan pada bahan pangan tunggal tertentu.

Daftar Pustaka
Papilaya,E,C. Sagu Sebagai Pangan Organis-Fungsional Untuk Kesehatan, Widyakarya Nasional Pangan Dan Gizi (WNPG) IX 26 – 27 Agustus 2008
Fadila A. 2011. Potensi Sagu dalam Upaya Diversifikasi Pangan. Tangerang Selatan (ID): Universitas Terbuka

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *