Kabinet Integritas

Air

Air adalah senyawa dari dua hidrogen dan satu atom oksigen, yang sangat penting bagi kelangsungan makhluk hidup. Air merupakan komponen mayor dalam tubuh dan separuh dari tubuh kita terdiri dari air. Pada waktu lahir tubuh terdiri dari 74 persen air, setelah dewasa air dalam tubuh sebanyak 55 persen sampai 60 persen pada laki-laki dan 45 persen sampai 50 persen pada wanita. Dalam tubuh, air ditemukan dalam dua bagian, yaitu cairan intraseluler (dalam sel) dan cairan ekstraseluler (luar sel).
Sumber air di bumi sebagian besar berasal dari lautan, danau, sungai, kolam, air bawah tanah, uap air, dan hujan. Sementara air di dalam tubuh berasal dari minuman, makanan, dan hasil metabolisme.
Sebanyak 4,7 liter air dapat bersirkulasi dalam tubuh setiap hari. Keseimbangan air atau sering disebut keseimbangan cairan dicapai dengan dua cara, yaitu mengontrol asupan cairan dengan adanya rasa haus dan mengontrol kehilangan cairan melalui ginjal. Distribusi air dalam tubuh tergantung dari distribusi ion mineral, yaitu ion positif natrium, kalium, dan ion negatif klorida yang disebut elektrolit. Ion natrium dan kalium bersifat basa, sedangkan ion klorida bersifat asam. Ketiga ion tersebut dapat saling menetralkan dalam menjaga keseimbangan asam-basa tubuh (Devi 2010).
air-putih
Air merupakan senyawa penting kedua setelah oksigen. Air berperan penting dalam semua proses kimiawi dalam tubuh, karena air merupakan media untuk senyawa dalam tubuh melakukan metabolisme. Air berfungsi sebagai pelarut, mulai dari pencernaan makanan sampai metabolisme. Air dipakai sebagai pelarut dalam terjadinya reaksi. Air juga sebagai reaktan karena merupakan zat kimia yang ikut dalam reaksi kimia. Air berperan sebagai lubricant (pelumas) karena dapat mempermudah bahan-bahan padat lepas menjadi bahan lain. Air penting dalam mengatur temperatur tubuh karena dapat mendistribusikan panas. Air dalam tubuh dapat melancarkan pengangkutan zat-zat gizi, mengatur keseimbangan cairan dan mineral, mengatur suhu tubuh, melancarkan proses buang air besar dan kecil, mencegah dehidrasi (kekurangan cairan), serta dapat menurunkan resiko penyakit batu ginjal.
Untuk memenuhi fungsi di atas, air yang masuk ke dalam tubuh harus bersih, bebas kuman, aman, dan cukup jumlahnya. Mengonsumsi cairan yang tidak terjamin keamanannya dapat menimbulkan gangguan kesehatan, seperti diare dan keracunan berbagai senyawa kimia yang terdapat dalam air. Karena itu, air minum harus terlebih dahulu dididihkan. Sedangkan air minum dalam kemasan, yang banyak beredar di pasaran, juga harus terlebih dahulu diproses oleh pabriknya sesuai dengan ketentuan pemerintah dan memenuhi syarat-syarat kesehatan.
Orang dewasa dianjurkan mengonsumsi cairan, terutama air minum, sekurang-kurangnya dua liter atau setara dengan delapan gelas sehari. Namun konsumsi air seringkali disepelekan begitu saja. Rasa haus tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan kebutuhan air minum. Misalnya, orang yang bekerja di ruang ber-AC tidak merasa haus. Padahal seharusnya ia memerlukan cairan lebih banyak dari pada ketika ia bekerja di ruang tidak ber-AC. Pada kelembaban udara rendah dan suhu udara tinggi, cairan tubuh banyak yang menguap, tetapi rasa haus biasanya tidak muncul.
Sebuah penelitian di Brazil mendapatkan hasil yaitu sebesar 22% pada atlet remaja ternyata masih mengkonsumsi air di bawah jumlah yang cukup (Sousa 2007). Penelitian lain di Hongkong menunjukkan hasil bahwa 50% subjek penelitian minum air kurang dari 8 gelas, dan bahkan 30% di antaranya minum kurang dari 5 gelas. Survei serupa juga dilakukan di Singapura menunjukkan sebagian besar remaja umur 15-24 tahun tidak minum dalam jumlah yang cukup. Rata-rata laki-laki minum 6 gelas air per hari, sementara perempuan minum 6-7 gelas per hari, masih kurang dari jumlah yang dianjurkan yaitu 2 liter perhari atau setara dengan 8 gelas per hari (Briawan et al 2011). Penelitian di Indonesia yang dilakukan pada remaja SMA di Bogor mendapatkan hasil sebesar 37,3% remaja yang minum kurang dari 8 gelas per hari (Briawan et al 2011), sedangkan pada mahasiswa sebesar 61% masih kurang mengonsumsi air minum (Rosmaida 2011).
Padahal kurang cukup minum air bisa menyebabkan kelebihan lemak pada tubuh, akibat lainnya adalah pertumbuhan dan kesehatan otot menjadi kurang normal, kurang efisiennya fungsi pencernaan dan organ, racun dalam tubuh akan bertambah dan timbul rasa sakit pada otot serta persendian (Cahanar dan Suhandar 2006). Jika terus menerus kurang cukup minum, bisa menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi adalah kehilangan cairan dalam tubuh dalam jumlah banyak dan menyebabkan haus, kehilangan nafsu makan, menurunnya urinasi, rusaknya penampakan fisik, pusing, rusaknya pengaturan temperatur, sakit otot, meningkatnya denyut nadi dan respirasi, serta lemah. Dehidrasi bisa melemahkan anggota gerak, hipotonia, hipotensi, dan takikardia, kesulitan berbicara, bahkan terkadang juga sampai pingsan (Je’quier dan Constant 2009). Dehidrasi yang terus menerus bisa meningkatkan resiko penyakit batu ginjal, infeksi saluran kencing, kanker usus besar, konstipasi, obesitas, stroke pembuluh darah otak, dan gangguan lain. Kekurangan minum juga dapat mengakibatkan pengentalan darah dan membuat aliran darah menjadi berat (Cahanar dan Suhandar 2006). Tubuh akan mencapai batasnya saat 20% air dalam tubuh hilang, saat itulah semua organ dalam tubuh tidak akan bekerja dan bisa berakibat pada kematian (Rinzler 2006).
Sebaliknya bila terlalu banyak mengkonsumsi air juga akan berdampak tidak baik. Overhidrasi adalah konsumsi air dalam jumlah banyak tanpa asupan yang cukup dari elektrolit dan ini disebut water intoksikasi. Konsentrasi elektrolit dalam ekstraselulermenurun tajam menyebabkan air dari ekstraseluler masuk sel dan kalium meninggalkan sel. Hal ini akan mengakibatkan kram otot, tekanan darah rendah, dan lemah. Pada otak, ini menyebabkan sawan, koma, sakit kepala, pandangan akan mengabur, kejang, dan juga bisa menimbulkan kematian karena gagal pernapasan (Wardlaw 2007).

DAFTAR PUSTAKA

Devi Nirmala. 2010. Nutrition and Food : Gizi untuk Keluarga. Jakarta (ID): PT Kompas Media Nusantara.
Sousa. 2007. Assessment of Nutrient and Water Intake Among Adolescents From Sports Federations In The Federal District, Brazil. British Journal of Nutrition. 99; 1275-1283.
Briawan et al. 2011. Kebiasaan Minum dan Asupan Cairan Remaja di Perkotaan. Jurnal Gizi Klinik Indonesia. Vol 8, No1; 36-41.
Rosmaida. 2011. Hubungan Faktor Internal dan Eksternal dengan Konsumsi Air Putih pada Remaja Penghuni Asrama Mahasiswa UI Depok Tahun 2011. Skripsi. FKM UI.
Cahanar dan Suhandar. 2006. Makan Sehat Hidup Sehat. Jakarta (ID): Penerbit Buku Kompas.
Je’quier dan Constant. 2009. Water As an Essential Nutrient: The Physiological Basis of Hydration. European Journal of Clinical Nutrition. 64; 115-123.
Rinzler. 2006. Nutrition for Dummies: 4th Edition. Indiana: Wiley Publishing, Inc.
Wardlaw. 2007. Perspective in Nutrition, 7th Edition. New York: The Mc Graw Hill Companies, Inc.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *