Kabinet Integritas

Pekan Sarapan Nasional

Sarapan atau makan pagi adalah makanan pertama yang biasa disantap setelah semalaman tidak makan. Waktu sarapan dimulai dari pukul 06.00 sampai pukul 10.00. Sarapan merupakan waktu makan yang paling penting dan sangat dianjurkan untuk dipenuhi, karena merupakan sumber energi awal untuk melakukan aktifitas seharian. Sarapan yang dianjurkan mencukupi 25% kebutuhan gizi harian (Khomsan 2005), sedangkan menurut Depkes (1995), sarapan pagi sebaiknya menyediakan 20-30% kebutuhan gizi sehari.
Hidangan saat sarapan pagi sebaiknya terdiri dari makanan sumber zat tenaga, sumber zat pembangun, dan sumber zat pengatur dalam jumlah yang seimbang (Depkes 1995). Sarapan harus dapat memenuhi kecukupan setiap individu serta memenuhi syarat gizi seimbang karena setiap jenis zat gizi tersebut mempunyai waktu metabolisme yang berbeda-beda. Pemecahan atau pembakaran karbohidrat berlangsung terlebih dahulu hingga 4 jam pertama, lalu protein, dan terakhir lemak. Vitamin dan mineral berperan membantu proses metabolisme tersebut. Jadi sarapan harus merupakan kombinasi yang baik diantara zat gizi yang di dalam makanan (Khomsan 2005). Terdapat beberapa manfaat sarapan, antara lain sebagai berikut.

  1. Menyediakan karbohidrat untuk meningkatkan kadar gula darah. Kadar gula darah yang cukup akan meningkatkan kosentrasi belajar sehingga berdampak positif terhadap prestasi akademik.
  2. Memberikan kontribusi penting beberapa zat gizi yang diperlukan tubuh seperti protein, lemak, vitamin, dan mineral. Ketersediaan zat gizi ini bermanfaat untuk proses fisiologis dalam tubuh (Khomsan 2005).
  3. Memelihara ketahanan fisik dan meningkatkan produktivitas kerja (Depkes 1995).
  4. Namun, meskipun sarapan sangat penting, masih banyak orang yang sering melewatkan sarapan. Terdapat beberapa alasan seseorang melewatkan sarapan, antara lain belum adanya nafsu makan atau tidak merasa lapar, menu yang tersedia tidak menarik, dan waktu yang terbatas (Khomsan 2005). Bahkan ada yang melewatkan sarapan dengan alasan diet. Tidak sarapan membuat kita banyak “ngemil” dan makan siang hingga 2 porsi bahkan lebih.
    Melewatkan sarapan menyebabkan turunnya kadar gula darah sehingga tubuh lemah karena tidak adanya suplai energi. Jika hal ini terjadi, maka tubuh akan membongkar persediaan tenaga yang ada di jaringan lemak tubuh. Pola makan dengan melewatkan sarapan dalam jangka waktu yang relatif panjang dapat menyebabkan penyakit infeksi disertai kurang gizi (Puslitbang Gizi et al. 1998).
    Sebagai bagian dari perilaku untuk mewujudkan gizi seimbang yang penting bagi hidup sehat, aktif dan cerdas, salah satu rekomendasi Simposium Nasional Sarapan Sehat yang dihadiri oleh sekitar 225 ahli gizi, ahli pangan, dan praktisi kesehatan dari sejumlah daerah pada tanggal 16 Juni 2012 di Jakarta adalah perlunya Hari/Pekan Sarapan Nasional. Tiga alasan utama diperlukannya Hari/Pekan Sarapan Nasional adalah:

    1. Sarapan merupakan salah satu perilaku penting untuk mewujudkan gizi seimbang, tetapi kenyataannya masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak sarapan;
    2. UU Kesehatan No 36/2009 serta UU No 18/2012 tentang Pangan mengamanatkan untuk mewujudkan gizi seimbang; dan salah satu pesan (pesan ke-8) dalam Pedoman Gizi Seimbang, yaitu biasakan makan pagi atau sarapan yang perlu terus disosialisaikan dan ditingkatkan; dan
    3. Adanya Hari/Pekan Sarapan Nasional diharapkan dapat sebagai momentum berkala setiap tahun untuk selalu mengingatkan dan mendorong masyarakat agar melakukan sarapan yang sehat dalam rangka turut mewujudkan Gizi Seimbang
    4. Pelaksanaan Pekan Sarapan Nasional (PESAN) yang diperingati setiap tanggal 14-20 Februari mendapat dukungan dari Kemendagri. Bentuk dukungan nyata tersebut berupa himbauan bagi para Gubernur di seluruh Indonesia untuk mendukung dan melaksanakan perayaan Pekan Sarapan Nasional (PESAN) (Pergizi Pangan Indonesia 2012).
      Pekan Sarapan Nasional yang telah berlangsung pada tanggal 14-20 Februari 2014 lalu merupakan yang kedua kali dilaksanakan sejak diputuskan pada tanggal 16 Juni 2012. Pekan Sarapan Nasional ini secara serentak diperingati di seluruh Indonesia dengan beragam cara, tergantung kebijakan pemerintah setempat. Dengan berlangsungnya Pekan Sarapan Nasional ini diharapkan adanya perbaikan dalam kebiasaan melewatkan sarapan untuk mewujudkan gizi seimbang sehingga menghasilkan SDM berkualitas menuju pembangunan bangsa yang lebih baik.

      Sumber:
      Departemen Kesehatan RI. 1995. 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang. Jakarta: Direktorat Bina Gizi Masyarakat.
      Khomsan A. 2005. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan 2. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
      Pergizi Pangan Indonesia. 2012. Deklarasi Pekan Sarapan Nasional. http://pergizi.org/index.php/berita-dan-kegiatan/22-deklarasi-pesan.html.
      Puslitbang Gizi-Depkes, Jurusan GMSK-Faperta-IPB, PSAE-Deptan, FKM UI. 1988. Studi Data Dasar PMT-AS di 10 Provinsi Luar Jawa-Bali Tahun 1996/1997 dan di 6 Provinsi Jawa-Bali Tahun 1997/1998.

      By: Okta Rajuni (GM48)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *