Kabinet Integritas

Defisiensi Vitamin D di Negeri Tropis

Asupan vitamin D anak-anak Indonesia saat ini diketahui masih sangat kurang. Selain menghambat pertumbuhan, kekurangan vitamin D juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan dan menderita osteoporosis dini.
Vitamin D memiliki peran penting sebagai pembentuk struktur tulang dan gigi manusia yang fungsinya memperkuat sistem kekebalan tubuh dalam pencegahan terhadap infeksi,kelainan imunitas dan keganasan. Insufisiensi (tidak cukup) dan defisiensi (kekurangan) asupan vitamin D merupakan faktor risiko terjadinya kelainan tulang,seperti rickets Selain itu,meningkatkan kemungkinan anak mengalami osteopenia atau osteoporosis dini.
Terjadinya defisiensi vitamin D juga dapat menyebabkan terjadinya rekurensi penyakit infeksi,kelainan yang berkaitan dengan imunitas ataupun terjadinya suatu keganasan. Tidak sekadar vitamin,vitamin D juga bertindak sebagai hormon yang berperan penting dalam penyerapan kalsium di usus.
Anehnya,konsultan endokrin anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr Aman B Pulungan SpA(K) mengungkapkan, peningkatan kasus defisiensi vitamin D terjadi pada anak-anak di negara-negara tropis yang kaya sinar matahari. Padahal,seperti kita ketahui, sinar ultraviolet pada cahaya matahari merupakan sumber utama vitamin D.
Selain Indonesia, lanjut dia,Malaysia,Qatar, India,dan negara-negara di Afrika telah memublikasikan sejumlah penelitian yang menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya defisiensi vitamin D para warganya. ”Apalagi di Tanah Air dan negara sun rich country lainnya gaya hidup masyarakatnya sudah berubah menjadi tidak sehat. Ditambah,di sini tidak ada produk fortified foodpenambah asupan vitamin D,”kata dia saat acara Journalist Classbertema, “Mengetahui dan Memahami Vitamin D untuk Kesehatan Optimal”oleh Pfizer Press Circle di Café Bloeming,fX Mall,Jakarta.
Studi yang dilakukan Aman dan rekannya mengenai profil vitamin D pada anak-anak sekolah dasar di Jakarta pada 2011 lalu menunjukkan, sekitar 75,9% anak mengalami insufisiensi vitamin D.Ini lebih tinggi dibandingkan di Malaysia (37,1%) ataupun yang terjadi di Afrika (30%).Sementara, defisiensi vitamin D sebesar 15%, lebih rendah dari Malaysia yaitu 35,3%,tetapi lebih tinggi dari India Utara yang mencapai 10,8%.
Pada siswa juga ditemukan, sekitar 16,7% di antaranya mengalami hipokalsemia atau rendahnya kadar kalsium dalam plasma darah.Ini terkait dengan kurangnya asupan vitamin D dan kalsium dalam tubuh. ”Kalau dibiarkan terus hingga remaja sampai dewasa,hampir pasti dia akan jadi pasien dokter tulang,sebelum gangguan lain menyerang,”kata Aman.
Dampak defisiensi kalsium dan vitamin D,kata Aman,cukup serius. Salah satunya penyakit tulang metabolik yang disebut rickets.Gangguan ini paling sering terjadi pada dua periode,yaitu bulanbulan pertama bayi dan anak-anak. Insiden tertinggi di usia 3–18 bulan. Umumnya,terjadi pada bayi dari ibu dengan diet tidak adekuat,kulit gelap,dan memakai pakaian tertutup.
”Untuk mencegahnya,ibu hamil dengan risiko tinggi,bisa mengonsumsi suplemen vitamin D dengan dosis 400 IU per hari dimulai sejak masa neonatus sampai usia satu tahun,”ujar dia. Ricketsnantinya tidak hanya mengenai tulang,tapi juga organ lain.Bahkan anak dengan kelainan ini,13 kali lebih rentan untuk menderita pneumonia (pneumopati rakitik) dan dua kali lebih besar kemungkinan meninggal.
Paparan sinar matahari juga amat penting.Dengan pigmen kulit berwarna gelap yang dimiliki masyarakat Indonesia,idealnya durasi paparan sinar matahari yang dibutuhkan adalah 5×90 menit atau 450 menit per minggu. ”Namun,dengan gaya hidup anak sekarang,sepertinya sulit untuk mencukupi kebutuhan dasar tersebut tanpa minum suplemen vitamin D,”kata Aman.
Dr Muki Partono SpOT,dokter ahli bedah tulang dari Rumah Sakit Puri Indah menuturkan, tidak hanya rickets,kekurangan vitamin D dan kalsium dapat juga menyebabkan osteopeni (penipisan tulang) dan osteoporosis (pengapuran tulang). Defisiensi juga bisa mengakibatkan tulang menjadi bengkok dan tumbuh tidak normal. Pada dasarnya,puncak kepadatan tulang (peak bone mass) manusia berada pada usia 20–30 tahun.Namun,apabila kekurangan vitamin D dan kalsium,kepadatan tulang akan berkurang di usia lebih muda sehingga risiko osteopeni dan osteoporosis di usia dini juga semakin meningkat.
Muki mengemukakan, memang sampai saat ini belum ada berapa data kasus ricketsyang terjadi pada anak-anak Indonesia.Namun,dia banyak menemui pasien anak yang sudah mengalami patah tulang karena benturan yang tak terlalu keras. ”Kebanyakan patah tulang karena aktivitas olahraga,seperti futsal. Ada juga yang hanya jatuh dari satu step tangga,tetapi sudah patah tulang.Ini tentu mengkhawatirkan,”tuturnya.
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/484120/
RANGKUMANNYA:
Vitamin D memiliki fungsi penting dalam pembentukkan struktur tulang dan gigi manusia dan regulasi kalsium dalam darah. Selain itu, fungsi vitamin D adalah memperkuat sistem imun terhadap penyakit infeksi. Insufisiensi (tidak cukup) dan defisiensi vitamin D dapat menyebabkan anak osteopenia (penipisan tulang) atau osteoporosis (pengeroposan tulang) dini.
Menurut dr Aman B Pulungan SpA(K), di Indonesia telah terjadi peningkatan kasus defisiensi vitamin D pada anak di negara tropis yang kaya sinar matahari, padahal sinar UV di matahari merupakan sumber utama vitamin D. Hal ini disebabkan gaya hidup masyarakatnya sudah tidak sehat dan tidak adanya pangan fortifikasi vitamin D.
Sebanyak 75,9% siswa SD di Jakarta mengalami insufisiensi vitamin D menurut penelitian dr. Aman. Selain itu ditemukan 16,7% siswa mengalami hipokalsemia (rendahnya kadar kalsium dalam plasma darah). Jika menhgalami kekurangan vitamin D dan kalsium maka anak akan mengalami penyakit tulang metabolik atau rickets.
Untuk mencegahnya, ibu hamil dengan risiko tinggi, bisa mengonsumsi suplemen vitamin D dengan dosis 400 IU per hari dimulai sejak masa neonatus sampai usia satu tahun menurut dr. Aman. Paparan sinar matahari juga amat penting. Dengan pigmen kulit berwarna gelap yang dimiliki masyarakat Indonesia, idealnya durasi paparan sinar matahari yang dibutuhkan adalah 5×90 menit atau 450 menit per minggu.

2 thoughts on “Defisiensi Vitamin D di Negeri Tropis

  1. saya mau melakukan penelitian tentang faktor risiko defisiensi vitamin d pada anak yg terinfeksi tuberkulosis, ada yang punya contoh penelitian tentang faktor risiko defisiensi vitamin d dan kuisionernya?mohon bantuannya..

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *