Kabinet Integritas

Cegah Masalah Gizi Melalui Posyandu

Posyandu selama ini identik dengan penimbangan berat badan dan pemberian makanan tambahan. Padahal, di posyandu orangtua juga bisa belajar tentang ilmu pengasuhan anak.

Di posyandu peduli Tumbuh-Aktif-Tanggap (TAT), para kader-kader posyandu yang sebelumnya sudah mendapat pelatihan, aktivitasnya jauh lebih bermakna dibanding sebelumnya.

Misalnya saja kegiatan monitoring tumbuh kembang balita tidak cuma dilakukan dengan menimbang dan mengukur tinggi badan anak, tapi juga lingkar kepala untuk mengetahui perkembangan otak.

Kegiatan pengukuran tersebut jika dilakukan secara rutin akan mencegah timbulnya gangguan gizi pada balita karena jika pertumbuhan anak di bawah rata-rata bisa segera diberikan intervensi.

Menurut Prof.Ali Khomsan dari Institut Pertanian Bogor, kegiatan di posyandu sangat mendukung upaya pemerintah yang saat ini berusaha mencapai target MDGs untuk menurunkan prevalensi balita kurang gizi.

“Saat ini Indonesia masih memiliki sekitar 7,8 juta anak dengan keterlambatan pertumbuhan karena kurang gizi,” katanya dalam acara peluncuran Gerakan Posyandu Peduli TAT 2013 di Jakarta pekan lalu.

Program gerakan posyandu peduli Tumbuh-Aktif-Tanggap (TAT) merupakan bagian dari upaya revitalisasi poyandu melalui pemberdayaan kader. Program tersebut merupakan kerjasama antara pengurus PKK pusat dan Nestle Dancow Batita.

Dalam program tersebut, para kader posyandu diberi pembekalan ilmu pengetahuan seputar kesehatan ibu dan anak, termasuk kegiatan monitoring tumbuh kembang anak.

Selain pemantauan perkembangan fisik, para kader juga dilatih untuk mengenali tanda-tanda keterlambatan kognitif atau kecerdasan anak.

Menurut Mayke Tedjasaputra, Psi, pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, anak yang sehat dan cerdas adalah anak yang aktif dan tanggap.

“Aktif berarti anak menunjukkan minat dan mau melakukan kegiatan yang mengandalkan gerakan motorik kasar dan halus, misalnya memanjat, berlari, terampil menggunakan pensil, dan sebagainya,” kata Mayke.

Sementara itu anak yang tanggap berarti anak punya keinginan untuk merespon terhadap stimulus yang diberikan. Misalnya anak memiliki nalar berbahasa, punya kemampuan sosial, serta menanggapi ketika diajak berbicara.

Seluruh indikator TAT tersebut dimasukkan dalam cek list yang dibagikan kepada para kader sehingga mereka bisa melakukan pencatatan dan monitoring anak-anak yang datang ke posyandu.

Para kader juga diajak untuk aktif memberikan penyuluhan kepada para orangtua anak supaya memperhatikan tumbuh kembang anaknya.

“Pengetahuan kader posyandu harus terus ditingkatkan supaya mereka bisa membimbing keluarga-keluarga di Indonesia,” kata Soesilowati Soebekti, Ketua IV PKK Pusat.
Ia menambahkan, para kader posyandu hanya sebatas memberikan penyuluhan dan pemantauan. Jika ditemukan masalah kesehatan yang lebih serius, entah itu gizi kurang atau gangguan tumbuh kembang, maka balita akan dirujuk ke puskesmas.

Sumber: kompas.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *